Ketidakjodohan Saya dengan Olahraga
Saya bukanlah seorang penggemar olahraga. Baik memainkan, atau menonton olahraga. Tak terkecuali sepakbola: agama kedua mayoritas penduduk Indonesia. Bahkan, halaman olahraga di setiap koran yang saya baca, selalu dibuang terlebih dahulu.
Tetapi, kebiasaan ini berubah drastis beberapa bulan terakhir ini. Tepatnya sejak ikut bantu Gimen cs menemani AREMA di masa kritisnya.
Saya nonton sepakbola secara langsung, seumur hidup ini, hanya dua kali. Pertama, saat masih kuliah di Malang. Gebetan ngajak nonton AREMA. Tanpa tahu peta, kami ke Gajayana dan setengah pertandingan habis buat antri sampai bisa masuk. Sisanya, makan tahu goreng saja di bawah tribun. Kedua, saat laga Indonesia Vs. Korea Selatan beberapa tahun silam. Itu juga diajak temen-teman AirPutih yang rame2 nonton. Sepanjang pertandingan, saya hanya cuci mata saja. Meski muka dicat merah putih.
Saya tergelitik soal AREMA justru saat jauh dari Malang.
Pertama, saat saya mengikuti Global Voices Citizen Media Summit di Santiago, Chile pada 2010 lalu. Di sebuah malam yang dingin dan beku. Saya bersama salah satu teman jalan-jalan mencari bar dan kehangatan. Masuklah kami berdua ke sebuah bar 24 jam, di sebuah ujung jalan, dekat Univercidad de Chile.
Seorang lelaki tua dan perempuan muda yang duduk dekat kami, tersenyum menyapa. Kami balas dengan senyum. Setelah toast gelas, kami saling bercerita. Beberapa orang di bar berkumpul ke meja kami. Seakan-akan kami mahluk aneh. Begitu mendengar asal saya dari Malang, mereka semua seperti kaget. Dan berkata,”Kami tidak tahu banyak soal Indonesia. Tapi kami tahu AREMA. AREMA membawa pergi Juan Rubio kami ke sana.” Saya juga membuka Youtube dan memutar video Aremania. Anehnya, mereka semua ikut bersenandung. Percakapan semakin hangat dan berakhir menjelang pagi. Tapi tidak dengan kegelisahan saya.
Di kamar hotel, saya Googling Juan Rubio. Saya kontak teman-teman di Malang, siapakah Juan Rubio. Alamak! Ternyata pemain AREMA dari Chile. Dan meraka pula yang membawa yel-yel dari Chile ke Aremania. Saya langsung tersinggung berat. Betapa orang-orang di Santiago lebih paham yel dan AREMA daripada saya sendiri.
Kedua, semenjak Gimen datang ke Jakarta. Inilah hari-hari di mana saya mau tak mau harus mendengarkan lagu-lagu AREMA, menonton video pertandingan AREMA dan malah ikut rapat intensif membahas masa depan AREMA.
Gimen pula yang tak kenal lelah menjelaskan persamaan stopper, bek dan poros halang. Menerangkan mengapa terjadi offside dan apa itu hattrick. Saya pun kalah. Harus melebur ke dalam aura sepakbola, ketika Gimen dengan rekan-rekan sekantor membicarakan bola sama menariknya seperti menikmati paras jelita nan seksi dari perempuan.
Ada sebuah kejadian lucu saat saya nonton pertandingan awal AREMA dengan PSMS Medan beberapa minggu lalu. Kris, seorang kawan yang ketinggalan pertandingan bertanya, “Itu tadi heading ya?” Saya jawab, “Nggak kok, seri. Kedudukan 1-1.” Kris pun ngeyel,”Iya, itu heading.” Kami pun berdebat. APakah heading atau seri. Sampai saya bentak Kris, “Kalo ga percaya, liat aja papan skor. Seri!”
Usut punya usut ternyata heading artinya sundulan kepala. Sedangkan saya kira, heading berarti ada yang unggul. Hahaha…
Sudahlah. Olahraga memang bukan bidang saya. Dan kini, sepertinya saya harus kembali menjauh dari olahraga. Atau setidaknya, lebih baik saya menjadi pemain oleh raga saja. Biar sehat dan atletis kembali seperti sedia kala.
Daripada menjadi bagian dari manajerial olahraga, yang ternyata jauh dari sportifitas.







dan… di pertandingan lawan PSMS itulah aku baru melihat ekspresi dirimu yang begitu gila ketika ketika AREMA leading 2-1 lewat gol T A Mushafry. Sungguh kalo aku sempat merekamnya mungkin itu akan jadi bagian gila darimu tentang AREMA, sepakbola dan euforia di tribun.
Hahaha… Wowor, My Man!
Untung koen ga merekam yo? Isin ayas.
Tapi itulah pertandingan di mana ayas sebagai suporter paling gila. Nyanyi, teriak, nari, lompat…
Hahahaha…
salam kenal mas wandi. kok lumayan menyentuh yo curcole sampeyan. hehehehehe, masih ingat jalan bendungan wonogiri kan mas
Cerita yg sangat menyentuh. Seperti sentuhan wanita jelita nan seksi
Lho ya, itreng ae soal Bendungan Wonogiri… Hahahaha
kostane ayas jejere kostane ujube sampeyan, wartel iku lho hehehehe. ngerti soale dikandani mbah gimen. pas njumuk “daun bungkus” lha iki lak kostane ujube wandi ngunu jare mbah gimen hehehehe
mantap bener Sam Wandi…
Cak Wor juga nimbrung rene pisan.. ibarat udune wes pecah, jingkrak2e maleh ga karu-karuan yo sam?
mengandung liar…
pengen meluk yang nulis artikel ini :cipokbasah
Salam kenal sam
Ijin menyimak pengajian :linux2
nuwus kabeh komentare kecuali cipok basah iku, hamput.
Siiiip……………………..Salut Bro !!!!! Aku sing mulai cilik selalu sok Aremania,malah iso’ne mek dadi Holigans yang ternyata lebih senang olah raga sendiri di luar lapangan golek perkoro tanpa sedikitpun pernah sedikitpun menjadikan diri ini manfaat bagi AREMA ATAUPUN AREMANIA.SALAM SATU JIWA…..DARI AKU DARAH MADURA,LAHIR DAN LEWATI MASA KECIL DI PINGGIR KALI BRANTAS ORO2 DOWO GG 8,BESAR DI SONGGOKERTO BATU,TERBUANG DI SMANELA LAWANG,KLELERAN DI JAKARTA DAN SEKARANG MENGAIS REJEKI BALIK KAMPUNG NANG ARUDAM.YA SALUT,KAGET N NDLOMONG TOK TAU NTE TEKAN AMERIKA BARANG.WIS POKOK’E TOOOP NDI !!!!