Archive for the ‘Inspirasi’


Jumatan Online: Misteri Rejeki

Selamat siang,
Jamaah Jumatan Online, di tanggal yang semakin tua seperti saat ini, kita seringkali melamunkan soal rejeki. Gaji yang besarnya 10 koma (baca: tanggal 10 udah koma), tiba-tiba beringsut menjauhi kantung kita. Lalu kita terhenyak: betapa rejeki belum datang jua.
Oh ya, sebelum saya lanjutkan khotbah Jumatan Online pada hari ini, seperti biasa, saya mohon agar laptop diluruskan, alas mouse ditanggalkan dan tidak berisik dengan tidak menyalakan aplikasi multimedia.
(more…)

Manusia di Kedalaman

Bukan kawan. Ini bukan soal Deni Manusia Ikan (Fishboy: Denizen of the Deep). Ini bukan rekaan Scott Goodall dan John Stokes dalam bentuk komik hitam putih. Ini bukan soal anak laki-laki yang terdampar di sebuah pulau dan belajar untuk bernapas di bawah air dan berbicara dengan makhluk-makhluk air. Bukan soal itu.
Manusia di kedalaman adalah orang-orang yang saya temui di pagi ini. Semuanya diawali saat saya mencari sarapan…
(more…)

MUI + Esia = Duet Konyol

Esia, salah satu produk yang tidak saya halalkan, menjual salah satu produknya yang diberi nama Hape Esia Hidayah. Iklannya gencar. Tidak ada yang unik dalam hape ini bagi saya. Keunggulan yang digembar-gemborkan oleh Bakrie Telecom sebagai produsernya adalah hape ini content islaminya. Misalnya pengingat adzan, quran cell hingga SMS pesan islami dari AA Gym, Dai Kondang Beristri Dua, dan teman-temannya.
Hal paling konyol dari Hape Esia Hidayah ini adalah bintang iklannya. Bukan Luna Maya berkerudung seperti di Aceh, tetapi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dengan terang-terangan Esia menyebutkan, bahwa Hape Esia Hidayah mendapat rekomendasi dari Komisi Fatwa MUI Pusat. Alamak!
(more…)

Gombal!

 

 

Gombal, adalah kain bekas kotor yang biasanya dijadikan sumpel atau lap barang kotor. Namun, kini gombal sudah makin ngetop. Bukan hanya sekedar dijadikan blog tenar. Namun sudah menjadi titel beberapa hal. Misalnya politis gombal: suka janji manis buat nambah suara. Selebriti gombal: maen film religi tapi gaya hidup. Ada juga gombal abu-bau. Gombal yang dibenci namun disuka dan sering juga bikin tersenyum. Namanya kalimat gombal.
Kalimat gombal lahir, IMHO, karena ada pihak yang suka ngegombal dan ada pihak satunya yang suka digombali. Kalimat gombal lahir murni dari cause demand and supply. Berikut ini beberapa kalimat gombal yang saya kumpulkan dari pengalaman pribadi berbagai sumber dan biasa saya digunakan cowok. Buat para jomblo, boleh deh dipake dengan beberapa modifikasi.

(more…)

Dewan Pembina Sinetron Republik Indonesia

dari sebuah diskusi di DIY, dengan IA dan RJ.

Dewan Pembina dalam sebuah struktur yayasan, tak ubahnya seperti sinetron. Mereka suka mengumbar mimpi-mimpi, wacana dan konsep yang absurd.  Menampilkan  keglamouran dan keindahan masa depan: civil society. Menghamburkan ilusi, menabur  utopia: masyarakat sipil yang berdaya. Bandingkan dengan sinetron kita: wajah-wajah cantik tak berdaki, tubuh mulus yang tak pernah luka, rumah mewah dan tidak ada derita selain rebutan pacar.
Keduanya sama: tidak membumi.
(more…)

Sambel Goreng Jempol

Saya mau melakukan sebuah hal yang jarang saya lakukan: pengakuan akan kelemahan. Karena besarnya ego, gengsi dan jaim saya. Saya mau mengaku kalau saya cantengan. Ya, cantengan. Itu lho, kuku yang masuk ke dalam daging jari. Kemudian infeksi dan kumuh. Penyakit kaum miskin deh, kata seorang seleb. Parahnya lagi, cantengan di jari kaki ini sudah menahun. Alias pengulangan dari tahun-tahun sebelumnya.
Sebulan ini, rasa sakit di jempol kaki kanan semakin menjadi. Padahal, hampir setahun lalu kuku yang cantengan ini sudah dicabut. Tentu saja tidak seperti dicabut di bilik interogasi. Lha wong ini pake dokter, peralatan steril dan obat-obatan.
(more…)

Banner yang Tulus

Selama sebulan penuh, yakni bukan Agustus 2008, saya mengganti template banner menjadi bernuansa merah putih. Bukan hanya banner, namun juga tagline-nya saya sesuaikan dengan semangat 17-an. Bukan apa-apa. Hanya ingin menyemarakkan saja suasana 17-an yang lebih menggigit.
Saya sebenarnya malu meramaikan 17-an yang agung hanya dengan banner. Namun, setidaknya saya bangga bisa menyemarakkan dengan ketulusan dan semangat ke-Indonesia-an. Bukan dengan korupsi, pidato atau kejahatan melawan kemanusiaan. Mending masang banner merah putih dengan tulus. Daripada pasang pin PNS dengan dada membusung karena arogan serta perut membusung karena makan duit haram. Daripada pasang plat anggota DPRD/Polri/TNI dengan mentereng serta arogan karena merasa bisa melibas jalan semaunya. Daripada pakai ring tone atau ring back tone lagu wajib namun dipakai untuk mengatur transaksi korupsi.
Saya bangga dan tulus dengan banner yang baru di blog ini.

Merdeka!