Cangkem Without Borders

sumber: Kompasiana
Menteri (mis) Komunikasi dan (dis) Informasi, Tifatul Sembiring, melalui akun Twitter-nya, sering membuat emosi banyak orang. Yang cukup terkenal adalah twit dia soal bencana alam di Indonesia akhir-akhir ini dikaitkan dengan azab Tuhan serta soal AIDS yang disebutkan secara bodoh sebagai singkatan dari Akibat Itunya Dipakai Sembarangan.
Pula, TVOne yang dikenal Terdepan Mengaburkan, melalui akun Twitter-nya, sempat membakar emosi. Terutama saat menjawab kritikan banyak pemirsa yang komplain saat TVOne menayangkan mayat korban tanpa blur, memberitakan adanya awan panas di Jogja dan banyak lagi ketidakakuratan beritanya.
TVOne menyuruh pemirsanya, pemilik frekuensi publik yang dipakai TVOne menangguk keuntungan, berpindah ke saluran lawak atau hiburan kalau tidak suka dengan TVOne. Gila ya, stasiun TV menyuruh pemirsanya pindah saluran.
Dalam kedua kasus di atas, ada perbedaan dan persamaannya. Perbedaannya, Tifatul Sembiring tidak meminta maaf, malah sibuk berkelit khas politisi. Sedangkan boss TVOne, Ardiansyah Bakrie segera meminta maaf melalui akun Twitter-nya.
Persamaan kedua kebodohan ini adalah ketiadaan empati bagi masyarakat dan ketidaksadaran bahwa twit yang disampaikan melah menjadi pukulan balik. Apalagi kebodohan ini dilakukan di dunia tanpa batas bernama internet. Tak ayal lagi, meskipun dihapus dari timeline-nya, tetap saja menyebar luas. Sebab, sekali lagi, kebodohan ini disampaikan di jejaring sosial dahsyat yang diakses jutaan orang tanpa batas di penjuru dunia.
Dunia tanpa batas memang memungkinkan segalanya. Termasuk penyebaran kebodohan a la Tifatul Sembiring dan TVOne. Namun, tanpa batas pula menjadi inspirasi bagi kebaikan kepada sesama. Misalnya Medicins Sans Frontiere (Doctor Without Border), Telecom Sans Forntieres, Reporter Sans Frontiere dan * Sans Frontier lainnya. Mereka senantiasa membantu sesama manusia tanpa ada sekat. Baik sekat negara, agama, jenis kelamin dan keyakinan serta ideologis.
Telecom Sans Forntieres menjadi lembaga pertama penyedia akses telekomunikasi darurat di Aceh dan Mentawai pasca tsunami. Jauh lebih cepat daripada Menteri (mis) Komunikasi dan (dis) Informasi. Medicins Sans Frontiere dengan segala nyalinya menembus gelombang menuju Calang, sebuah kota terpencil yang hancur akibat tsunami Aceh, jauh lebih cepat dari PMI saat itu.
Tak ada salahnya kita belajar dari banyaknya kejadian yang bodoh akibat ketiadaan batas. bahwa apapun yang kita sampaikan di dunia di dunia maya, harus dipikir masak-masak.
Think Before Posting, kata InternetSehat. Sebab, cangkemmu, adalah harimaumu.







#cangkem bedho karo #silit !
#modyarcocote
It is the second entry I read tonight. Thank you.
opo mentrine diganti Gayus wae pak?